BERJANJILAH…

Berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu kuat… bahkan dalam keadaan yang tersulit sekalipun.

Berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu tersenyum… bahkan dalam situasi yang tersedih sekalipun.

Berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu berdiri tegak… bahkan saat menanggung beban yang terberat sekalipun.

Berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu menjadi yang terbaik… bahkan saat saat semua orang menyudutkanmu sekalipun.

Berjanjilah padaku, bahwa kau akan baik-baik saja…. dengan atau tanpa kehadiranku.

Advertisements

Kosong

Pada dinding-dinding yang kelam dan membisu.. aku merajah namamu dengan airmata.

Di titik terdiamku yang paling sunyi.. aku menjelajahi hatimu yang tak tersentuh.

Denganmu, hatiku terpenjara kebimbangan yang entah sampai kapan.

Bersamamu, jiwaku terbelenggu keresahan yang berkepanjangan.

Di sisimu, rasaku terjeda tanpa makna… kosong.

Serupa ampas kopi yang tersisa di dasar cangkir… pahit.


Step Back Forward

Keren ya judul postingan gue kali ini. But… jangan berharap isinya bakal sekeren judulnya, soalnya seperti biasa tulisan gue ya gitu-gitu aja… cenderung cuma letupan-letupan emosi sesaat yang gak penting.

Jadi gini… belakangan ini gue jadi sering kepikiran omongan beberapa teman yang menilai kalau gue terlalu  sibuk ngurusin orang lain sampai lupa untuk ngurusin diri gue sendiri. Mereka bilang, gue terlalu semangat kalau bantuin orang dan gak bisa nahan emosi gue supaya tetap di jalurnya. Continue reading Step Back Forward

JENDELA HATI

Sesekali, cobalah melihat ke dalam hati kita sendiri. Agar kita mampu menilai diri, tak sekedar menjadi orang yang nyinyir tentang hidup orang lain. Atau cobalah berkaca tentang segala yang telah kita lakukan, bukan hanya bisa menyalahkan apa yang dilakukan orang.

Sesekali, cobalah memahami apa yang orang lain rasakan. Agar kita mengerti bagaimana rasanya disudutkan. Atau cobalah memposisikan diri kita sebagai orang lain, bukan sekedar berkata “harusnya kamu begini, harusnya kamu begitu” atau “apa susahnya sih melakukan ini, apa susahnya sih melakukan itu”.

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda dalam menghadapi suatu permasalahan. Ada yang dengan mudah mencari jalan pemecahannya, ada juga yang berlarut-berlarut tenggelam dalam permasalahannya. Kita tidak bisa menghakimi orang lain karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami oleh orang tersebut.

Yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang lain. Begitupun sebaliknya. Alangkah baiknya jika kita bisa saling menghargai pendapat, pikiran dan perasaan orang lain. Atau kalau memang diperlukan, bicara saja secara baik-baik tanpa emosi apalagi dilandasi rasa benci.

Apapun alasannya, kita bukanlah wasit pertandingan olahraga, juga bukan juri ajang pencarian bakat. Kita hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Kita juga tidak sempurna. Sehebat apapun kita, pasti ada celah dalam kehidupan kita yang pernah atau bahkan sedang melakukan kesalahan.

Belajar sabar untuk menerima kekurangan orang lain. Belajar ikhlas untuk menerima kelebihan orang lain. Karena hidup itu sederhana saja… berbuat baik semampu kita, berbahagia dan bersyukur atas segala yang telah Tuhan berikan untuk kita.

 

 

Hadiah Yang Terbengkalai

Satu minggu menjelang hari bahagiamu, sudah kusiapkan sebentuk hadiah sederhana. Semoga bisa kamu gunakan, itu harapanku.

Beberapa hari yang lalu, aku mulai berfikir…. apakah pantas aku memberikan hadiah ini ? Apakah tidak terlalu berlebihan ?

Dan hari ini… tepat di hari bahagiamu, hanya sebuah pesan ucapan selamat yang mampu kuberikan padamu. Tanpa keberanian untuk menanyakan, kemana hadiah ini harus kukirimkan.

Hadiah yang terbengkalai… setidaknya aku sudah berniat untuk memberikannya meski tak tersampaikan.

~ selamat ulang tahun ~

image

BERBICARA DENGAN HATI

Bisa bersenda gurau dengan orang-orang di sekeliling kita pasti akan sangat menyenangkan. Canda dan tawa bisa menimbulkan rasa kebersamaan, bahkan keakraban. Tapi kita juga kadang lupa, bahwa tidak semua hal yang kita anggap lucu itu dianggap lucu juga oleh orang lain. Bukan tidak mungkin, saat kita tertawa ada orang lain yang tersinggung atau bahkan sakit hati.

Kalau kondisi seperti itu terjadi, sudah seharusnya kita peka dan menghentikan gurauan kita. Sayangnya, tidak semua orang bisa peka. Dan yang lebih parah lagi, kalau kita tahu bahwa gurauan kita menyinggung perasaan orang lain tapi kita malah menganggap orang itu “gak asyik” atau “gak bisa diajak bercanda”.

Bercanda itu ada batasnya. Sedekat apapun kita , tetap saja kita harus memperhatikan batas-batas bercanda yang wajar.

Tidak merendahkan/menjatuhkan harga diri orang lain adalah salah satu contoh batas bercanda. Bukan bercanda lagi namanya kalau kita sampai kita merendahkan/menjatuhkan harga diri orang lain. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang berhak merendahkan/menjatuhkan harga diri orang lain. Kita juga pasti tidak mau kalau harga diri kita di rendahkan/dijatuhkan oleh orang lain bukan ?

Tetap menghormati orang yang lebih tua adalah contoh lain dari batas bercanda. Seakrab/sedekat apapun kita dengan teman yang usianya di atas kita, kita tetap harus menghargai mereka. Bayangkan saja bagaimana seandainya orangtua kita yang dijadikan bahan bercanda, pasti kita juga akan merasa tersinggung.

Soal materi pun cukup sensitif untuk dijadikan bahan bercanda. Tidak ada gunanya juga bercanda soal materi, toh kita berteman juga bukan atas dasar materi.

Sederhananya… Posisi kan saja diri kita sebagai pihak yang dijadikan obyek bercanda. Maka kita pasti akan berpikir dulu sebelum menjadikan orang lain sebagai obyek bercanda yang menyakitkan.

Keriuhan Hati

Harusnya ini mudah.
Karena seperti katamu, hati tak bisa dipaksakan.

Harusnya ini mudah.
Karena seperti pikirku, rasa tak selalu harus diungkapkan.

Tapi ini sama sekali tak mudah bagiku.
Karena setelah bertahun-tahun, rasa ini hadir menyapaku lagi.

Rasa yang selama ini selalu kuhindari.
Rasa yang kukira sudah lama mati.

Entahlah…

Mestinya aku akan baik-baik saja jika rasa ini tak pernah ada.
Sayangnya rasa itu terlanjur ada, dan aku tak baik-baik saja.

Ah…

Mungkin sebaiknya aku kembali ke duniaku yang tak tersentuh.
Melindungi hati dari luka seperti biasanya.

Bukankah aku selalu bisa menutupi segala rasa di dada ?
Dan menyembunyikan airmata di balik tawa..

Sesederhana itu…

Tak ada yang harus kukhawatirkan..
Semua akan kembali seperti sediakala..
Aku akan baik-baik saja dan melupakan semuanya…