DIAMLAH… BICARALAH

Diamlah saat kau harus diam, bicaralah saat kau harus bicara. Kalimat ini kelihatannya sederhana saja, tapi memiliki makna yang cukup dalam. Ya… kita sering tidak tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara. Ini bisa terjadi karena pengaruh beberapa hal, misalnya :1. Emosi. Dalam kondisi emosi yang kurang baik (marah/sedih/kecewa) ada orang yang memilih untuk diam dan menyimpan semua emosinya itu dalam hati, tetapi ada juga yang secara sadar/tidak sadar mengungkapkan emosinya itu melalui kata-kata.

2. Kondisi Fisik. Pada saat sakit atau lelah, biasanya seseorang menjadi lebih pendiam karena memang kondisi fisiknya kurang memungkinkan untuk terlalu banyak bicara.

3. Ego. Beberapa orang dengan ego yang tinggi bisa bersikap “sangat diam” atau “banyak bicara” tanpa peduli apakah sikap diam atau banyak bicaranya itu tidak disukai oleh orang lain.

Jika seseorang diam/bicara pada saat yang kurang tepat, bukan tidak mungkin hal itu akan mempengaruhi orang-orang yang berinteraksi dengannya. Ia bisa membuat orang lain marah/sedih/kecewa dengan sikapnya itu.

Untuk menghindari atau setidaknya mengurangi kemungkinan terjadinya hal itu, ada beberapa hal yang harus diingat baik-baik :

1. Saat emosi sedang tidak stabil, alangkah baiknya jika kita berdiam diri sejenak sampai emosi kita stabil lagi. Dalam keadaan emosi, biasanya seseorang sulit untuk mengendalikan ucapannya dan kadang mengucapkan sesuatu yang nantinya akan disesali.

2. Dalam kondisi fisik yang kurang baik, berdiam diri memang pilihan yang paling tepat. Tapi sebaiknya kita memberitahukan kondisi kita itu pada orang yang berinteraksi dengan kita. Begitupun sebaliknya, jika lawan bicara kita dalam kondisi fisik kurang baik tidak ada salahnya kita diam sampai kondisi fisiknya membaik dan siap diajak bicara.

3. Menghadapi orang dengan ego yang tinggi memang serba salah. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikirannya saat ia diam dan seringkali menjadi sakit hati saat ia bicara. Bijaksanalah bersikap pada orang-orang dengan tipe seperti ini. Jangan sampai kita salah mengartikan sikap diamnya, jangan juga memaksanya untuk bicara karena ia justru akan semakin diam. Sebaliknya, untuk menghadapi orang yang terus bicara tanpa peduli pada perasaan orang lain, berdiam dirilah sampai orang itu selesai bicara lalu bicaralah dengan tegas untuk mengakhiri percakapan.

Satu hal penting yang harus kita sadari betul : Berhati-hatilah saat bicara, jangan sampai kita menyesal di kemudian hari atas apa yang sudah kita ucapkan. Sekali, dua kali mengucapkan sesuatu yang fatal mungkin masih bisa dimaafkan… tapi jika hal itu terus berulang, bukan tidak mungkin orang-orang akan enggan berinteraksi/berkomunikasi dengan kita.

Diam atau bicara… itu adalah pilihanmu sendiri. Resiko dan akibatnya pun kamu yang akan menanggungnya sendiri.

Written by @erdyanti_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s