K D H P

Kalau selama ini kita sering mendengar atau membaca soal KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kali ini saya memakai istilah KDHP (Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran).KDHP (abuse dating relationship) adalah penggunaan dengan sengaja cara-cara kekerasan/tekanan fisik untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan atau kontrol terhadap pasangannya, yang dilakukan dengan sengaja dan secara sadar untuk membuat korbannya tetap bersamanya.

Bicara tentang KDHP, mungkin yang pertama kali terbayang di benak kita adalah pemukulan atau penganiayaan secara fisik yang berakibat memar, mata biru, bahkan rahang atau tulang rusuk patah.

Namun sesungguhnya kekerasan fisik yang terjadi dalam sebuah hubungan, kebanyakan selalu ada sejarah panjang kekerasan verbal dan emosional sebelumnya.

Kadang kita sendiri tidak menyadari bahwa kita mengalami KDHP secara verbal/emosional karena kita terlalu hanyut dalam perasaan cinta dan berfikir bahwa semua itu adalah hal yang wajar. 

Beberapa hal di bawah ini mungkin bisa membantu untuk mengingatkan diri kita sendiri atau mungkin teman/keluarga kita tentang tanda-tanda terjadinya KDHT:

1) Sebelum bertemu dengan pasangan, kita punya lebih banyak teman dibandingkan sekarang;

2) Sebelum bertemu pasangan, kita lebih ramah, banyak terlibat dalam kegiatan keluarga , aktivitas sekolah/sosial atau di tempat ibadah;

3) Kita sering menangis atau merasa sangat sedih tanpa sebab yang logis;

4) Jika pasangan mengirim pesan singkat, kita harus segera menghubunginya;

5) Pasangan menyatakan cintanya pada awal hubungan;

6) Pasangan cemburu hanya karena kita memandang sepintas lalu atau berbicara dengan lawan jenis;

7) Pasangan menuduh kita melakukan tindakan yang sebenarnya tidak kita dilakukannya;

8) Pasangan agresif dalam area lain, ia meninju dinding atau lemari, meninju untuk menegaskan atau melempar benda-benda saat marah;

9) Kita berdalih atas perlakuan buruk pacarnya atau mengatakan itu adalah kesalahan kita;

10) Pasangan sering memberi “nasihat” tentang bagaimana memilih teman, gaya rambut, baju atau riasan wajah;

11) Pasangan memanggil kita dengan sebutan buruk, kemudian tertawa, dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda atau mengatakan bahwa kita terlalu sensitif;

12) Kita menjadi penuh rahasia sejak berkencan dengan pasangan;

13) Kita merasa begitu menderita kapan pun ia berpisah dengan pasangan;

14) Kita menjadi begitu kritis pada penampilan, bakat, dan kemampuan kita sendiri;

15) Kita sering harus menjelaskan panjang lebar kepada pasangan atau sering meminta maaf;

Harus dipahami bahwa kekerasan verbal dan emosional merupakan jalan menuju kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual.

Seseorang tidak perlu melukai/menganiaya untuk mendapat kekuasaan dan kontrol atas diri kita, sering kali dengan tatapan yang mengancam saja sudah cukup.

~ catatan ini ditulis dalam kondisi “high level bad mood” yang berkepanjangan ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s