MEMBUNGKAM SUARA HATI

Malam ini aku merasa layak untuk memberi ucapan selamat kepada diriku sendiri.

Dengan susah payah, aku sudah berhasil mengatasi masalah ‘perasaan’ yang belakangan ini selalu menggangguku (juga menggganggumu).

Meski harus berurai airmata, aku bisa membungkam suara hati yang biasanya selalu kuutarakan padamu… juga membungkam keluh kesah yang selama ini kusampaikan untukmu.

Malam ini, aku membutakan mata.. membekukan rasa.. dan mengabaikan semua kegelisahan yang mengganggu.

Mungkin ini cara terbaik untuk menghindari pertengkaran dan kesalah pahaman yang sering terjadi diantara kita.

Mungkin memang harus ada sedikit jarak yang terbentang diantara kita, agar kehadiranku tidak menjadi duri dalam kehidupanmu, juga bagi orang-orang di sekelilingmu.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berharap… semoga yang aku khawatirkan selama ini tidak terjadi. Kalaupun benar terjadi, semoga kamu bisa mengatasinya.

Yang kamu sebut ‘hanya perasaanku’ adalah hal-hal yang kulihat dengan mata hati dan perasaanku. Kalaupun semua itu salah, setidaknya diamku ini adalah tanda penyesalanku atas kesalahan itu.

Tak ada yang berubah dengan perasaanku padamu… aku masih tetap mencintaimu dan tetap berada di sisimu. Yang berubah hanyalah caraku mencintaimu… kali ini, aku mencintaimu dengan membungkam suara hati.

~Ѐ®ƊiϺ@Ƴ@~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s