Menantang Luka

Di penghujung malam, dengan sisa-sisa airmata yang masih berjatuhan dari sudut mata… aku menantang luka yang kembali tercabik oleh kehadirannya.

Entah keberanian macam apa yang dia miliki hingga sanggup menemuiku dengan wajah tengadah dan raut tanpa dosa.

Duh Gusti, maafkan aku yang tak sanggup menahan diri untuk meluapkan segala amarah dengan kekejian kata-kata. Ampuni aku atas kebencian yang menggelegak ini.

Hanya segala tentangmu yang memenuhi rongga dada yang mampu menenangkanku tadi. Hanya dengan mengingatmu, aku sanggup meredakan amarah dan memintanya pergi.. selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s