KETULUSAN YANG SEDERHANA

Catatan ini saya tulis di atas angkot, beberapa menit setelah melihat sebuah kejadian yang membuat saya terhenyak dan nyaris kehilangan kata-kata.

Sore ini saya pulang dari kantor tidak melalui jalur yang biasanya saya lewati. Duduk di bangku debelah supir, membuat saya punya banyak kesempatan untuk bicara dengan pengemudi angkot yang saya naiki.Ini salah satu kebiasaan saya setiap kali naik kendaraan unum, ngobrol dengan pengemudinya.

Sayangnya pengemudi angkot yang satu ini cenderung pendiam, jadi sayapun hanya bertanya sekedarnya saja. Namanya Pak Amir, laki-laki berumur 51 tahun dengan 4 orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Dia bilang, jadi pengemudi angkot itu penghasilannya tergantung dari sedikit/banyak nya penumpang. Iya lah, saya juga tahu kalau soal itu….

Mendadak dia menghentikan mobilnya di depan seorang penjual rambutan pikul yang sudah lumayan renta. Tanpa menawar dia membeli cukup banyak rambutan dari lelaki tua itu. Saya jadi heran dan bertanya untuk apa dia membeli rambutan sebanyak itu sementara dia hanya tinggal berdua dengan istrinya.

Mau tahu apa jawaban Pak Amir ? Saya juga bingung mbak mau diapakan rambutan sebanyak inia, tapi saya kasihan lihat bapak yang jual rambutan itu. Sudah tua masih saja jualan dengan pikulan keliling keluar masuk gang.

#jleb !!!! Jantung saya serasa ditusuk mendengar jawaban seperti itu. Jangan tanya kenapa… kita pasti bisa menjawabnya sendiri.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s